Jumat, 08 September 2017

Plagiat Bukan?

Beberapa bulan lalu ada yang menanyakan padaku tulisan di blog seseorang yang menurutnya mirip dengan tulisannya. Apakah itu termasuk plagiat atau minimal terinspirasi? Lebih kurang begitu pertanyaannya. Lumayan membuat galau. Kenapa? Mungkin alasan pertama karena aku lebih ahli mencari perbedaan dibanding mencari persamaan atau kemiripan. Buktinya, salah satu permainan favoritku adalah "carilah lima perbedaan dari dua gambar berikut". Padahal, kalau menilai suatu karya termasuk plagiat atau bukan, aku harus mencari kemiripannya, kan? Alasan kedua: aku tidak punya ilmunya. Sepertinya alasan ini lebih noral dibandingkan alasan pertama. Meskipun aku sering bersikap sok tahu dan beropini tanpa ilmu yang cukup, ada kalanya aku tidak berani menjawab pertanyaan kalau benar-benar tidak punya dasar ilmunya. Salah satunya pertanyaan tentang plagiat tadi. Aku kan cuma tukang curhat di blog .... Tulisan di blog biasanya ditulis dengan bahasa khas masing-masing blogger. Jadi, kalaupun ada kemiripan, cara penyampaiannya biasanya berbeda. Bagaimana menilai plagiarismenya? Entah. Aku tidak tahu. Kalau tulisannya sama persis seperti tulisan seseorang yang inisialnya mirip dengan Akademi Fantasi Indosiar itu sih mudah menuduh plagiat, ya, karena hampir 100% persis.
 
Salah satu sifat burukku adalah memikirkan terlalu banyak kemungkinan. Tulisan yang mirip bisa jadi memang plagiat. Bisa jadi tulisan yang kedua memang menyadur dari tulisan pertama dan penulis kedua tidak menyebutkan sumber aslinya. Kemungkinan kedua, bisa jadi penulis kedua terinspirasi setelah membaca tulisan penulis pertama. Kemungkinan ketiga, bisa jadi penulis kedua memang memiliki ide yang sama dengan penulis pertama meskipun belum pernah membaca tulisan si penulis pertama dan menuliskan ide tersebut di blog. Apa mungkin dua orang memiliki ide yang sama dalam waktu yang hampir bersamaan? Well, we're talking about human mind. Apa yang tidak mungkin?

Sepertinya lebih mudah untuk mendeteksi plagiarisme dalam tulisan ilmiah. Mudah gundhulmu, Mil. Hehehe! Setidaknya dalam tulisan ilmiah struktur tulisannya baku, ada permasalahan, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, batasan penelitian, metodologi penelitian, hasil, dan kesimpulan. Tinggal membandingkan unsur-unsur tersebut untuk mengetahui suatu tulisan termasuk plagiat dari tulisan lain atau tidak. Meskipun tidak menyontek, kalau unsur-unsur tersebut sama dengan tulisan yang sudah lebih dulu dibuat, ide orang kedua ini juga besar kemungkinan ditolak. Eh, bener nggak, sih? Gitu kan, ya? Anggep aja gitu. Dalam penulisan ilmiah aturan soal plagiat ini lebih ketat. Sedikit-sedikit kutipan (Milo, 2017). Mengutip definisi dari buku saja harus diberi kutipan. Ngomong-ngomong soal definisi, dalam penulisan ilmiah kita malah harus "menyontek" definisi. Definisi yang digunakan harus merujuk pada beberapa tulisan sebelumnya, tidak boleh mengarang definisi sendiri. Jangan lupa diberi kutipan (Milo, 2017).

Kalau tulisan fiksi? Nah, ini juga susah. Aku pernah membuat semacam-resensi novel Ayahku Bukan Pembohong dan ada yang berkomentar menyebutkan kemiripan novel ini dengan film Big Fish. Setelah menonton filmnya aku merasakan memang ada kemiripan plotnya. Di catatan novel tersebut Tere Liye menyebutkan kalau dia belum pernah membaca novel Big Fish tetapi dia seingatku tidak menyebutkan tentang film Big Fish. Kalau dia memang mengaku belum pernah membaca novelnya, ya aku percaya saja kalau itu hanya kesamaan ide. Mungkin aku terlalu lama bekerja di tempat yang "mempercayai pengakuan responden" selama itu masuk akal dan tidak error sewaktu validasi. Novel lain yang mirip dengan novel lama adalah Laskar Pelangi yang katanya mirip dengan novel Dua Belas Pasang Mata. Di semacam-resensi Dua Belas Pasang Mata yang kutulis juga ada yang menanyakan kemiripan Laskar Pelangi dengan novel karya Sakae Tsuboi tersebut. Dan lagi-lagi aku tak berani menuduh Andrea Hirata plagiat. Aku juga tidak menemukan artikel atau berita yang menyebutkan Andrea Hirata mengakui ataupun menyangkal bahwa Laskar Pelangi terinspirasi oleh Dua Belas Pasang Mata.

Batasan antara plagiat atau tidak dalam tulisan (nonilmiah) sepertinya masih membingungkan bagiku. Misalnya kemiripan karakter dan alur. Kasus kemiripan plot dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Sous les Tilleuls ada yang menganggap plagiat dan ada yang menganggap bukan plagiat. HB Jassin termasuk yang menganggap karya tersebut bukan plagiat. Namun, pada kasus lain, misalnya drama The Queen Seon Deok. Kesamaan karekter, alur, dan peristiwa di  drama tersebut dengan pertunjukan musikal Queen of Rose of Sharon, Seon Deok dianggap plagiarisme. Eh, itu kan drama dan pertunjukan, bukan tulisan. Lah, naskahnya kan tulisan juga, yak. Anggap saja begitu.

Sepertinya lebih baik kita serahkan pada para ahli untuk memutuskan suatu karya plagiat atau tidak. Paling tidak para ahli punya alasan yang lebih kuat dibandingkan aku yang cuma tukang curhat ini. Jadi, nulis panjang-panjang kesimpulannya cuma "serahkan pada ahlinya"? Huum. Cih, buang-buang energi bacanya.

ARTIKEL TERKAIT



2 komentar:

  1. ya sih aku juga bingung. Plagiat menurutku hanya meniru seluruh isi atau objek tertentu seutuhnya. orang bisa saja mencari beberapa referensi untuk menciptakan karya lain yang berbeda dengan mencontoh beberapa poin dari referensei tersebut. bagiku itu bukan plagiat. tau ahh bingung jg ehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo dalam tulisan ilmiah, mengutip satu kalimat saja tanpa menyebutkan sumber bisa dianggap plagiat sih. Yang bingung kalo nonilmiah. Ah, entahlah.

      Hapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar sebagai tanda bahwa teman-teman sudah membaca tulisan ini.. Tapi, tolong jangan menggunakan identitas Anonim (Anonymous), ya.. Dan juga, tolong jangan nge-SPAM!!!